Selamat hari lahir, sayang.
Maaf kalo selama ini aku telah gagal jadi kakak yang baik buat kamu.
Maaf kalo selama ini aku belum bisa jadi pembimbing yang bijak sebijak beliau, ayahandamu.
Aku sering sekali mengecewakanmu, hingga untuk sedekar mengenal diri sendiri aku tidak sanggup. Dan tentu, aku sudah membuatmu sedih karna itu.
Aku pernah dan bahkan sering tak memperdulikan sayangnya kamu ke aku.
Tapi aku tahu, tanpa perlu aku minta maaf, kamu pasti udah maafin aku.
Maaf ya sayang, aku tidak bisa merangkai kata seindah kata-kata yang pernah kamu rangkai.
Aku juga tidak sepeduli kamu yang peduli sama aku.
Dari awal aku tidak tahu mau memulai ini dengan kata-kata seperti apa.
Nentuin diksi yang pantas pun aku bingung.
Yaudah, dek. Intinya aku sayang banget sama kamu. Aku cuma pengen dengan bertambahnya tingkat usia kamu, bertambah pula kedewasaan kamu, tetap jadi kebanggan orangtua kamu, jadi kebanggaan temen-temen kamu, pun jadi kebanggaan kakak juga.
Tuhan, satu pintaku. Beri kekuatan, kesehatan, dan kebahagiaan yang berlimpah buat adikku di umurnya yang ke sekian ini. Senantiasa dampingilah ia, Tuhan. Agar ia selalu terlindungi dibawah ma'unnah dari sisiMU. Dan Tuhan, semoga aku akan dapat memberikan kebahagiaan sebagaimana dia berikan seutuh-utuhnya kebahagiaan buat aku.
Selamat hari lahir, sayang. Mungkin inilah sebentuk kado yang mungkin bisa aku kasih ke kamu, adikku. Berharap kamu membaca ketikan yang mungkin tak ada nilainya ini.
Sekali lagi maaf
untuk semua sifat dan sikapku yang mungkin sering membuatmu kecewa.
Tapi satu hal, sayang. Aku sangat mencintai kamu. Jaga komitmen kita ya, sayang.